SWARAJAMBI.NET, BATANGHARI – Persoalan keamanan, kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), hingga kondisi ekonomi masyarakat Suku Anak Dalam (SAD) menjadi bahasan dalam silaturahmi Kapolres Batang Hari AKBP Doni Aryanto dengan para Temenggung SAD, Jumat (18/9/2026).
Pertemuan berlangsung di Media Center Polres Batang Hari. Hadir Wakapolres Batang Hari Kompol Dedi Kurniawan Susilo bersama jajaran pejabat utama dan sejumlah Kapolsek. Sejumlah Temenggung dari Kecamatan Batin XXIV, Maro Sebo Ulu, serta Jenang Air Hitam, Sarolangun, turut hadir.
Para Temenggung menegaskan komitmen membantu kepolisian menjaga keamanan dan kelestarian hutan. Mereka juga siap memberikan informasi jika menemukan titik api maupun aktivitas yang berpotensi memicu Karhutla.
Namun, persoalan ekonomi turut mengemuka. Temenggung Jenong menyampaikan bahwa perubahan kawasan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit membuat sebagian masyarakat kehilangan sumber penghidupan yang selama ini bergantung pada hasil hutan.
Kondisi tersebut membuat sebagian warga mengambil berondolan sawit yang telah jatuh di sekitar perkebunan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Para Temenggung berharap pemerintah dan pihak terkait mencarikan solusi agar masyarakat tetap dapat memenuhi kebutuhan hidup tanpa berhadapan dengan persoalan hukum.
Menanggapi hal itu, Kapolres Doni Aryanto mengatakan komunikasi antara kepolisian dan masyarakat harus terus dibangun. Terkait berondolan sawit, polisi masih dapat memberikan toleransi dalam kondisi tertentu dan jumlah terbatas, dengan tetap memperhatikan ketentuan hukum.
Namun, Doni mengingatkan masyarakat SAD tidak mengambil buah sawit yang masih berada di atas pohon karena dapat menimbulkan persoalan hukum dengan perusahaan.
Soal lapangan pekerjaan, Doni menyebut kepolisian tidak memiliki kewenangan langsung menyediakan pekerjaan. Meski demikian, persoalan tersebut akan dikoordinasikan dengan Bupati Batang Hari dan pihak terkait untuk mencari solusi yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Karhutla Jadi Perhatian
Doni juga menegaskan Karhutla menjadi perhatian serius. Setiap kebakaran harus ditangani dan diproses sesuai aturan.
“Jika masyarakat mengetahui adanya aktivitas pembakaran atau menemukan titik api, segera sampaikan kepada Polsek terdekat agar dapat dilakukan pengecekan dan ditindaklanjuti,” tegasnya.
Ia juga meminta para Temenggung dan masyarakat SAD menjaga Kamtibmas. Setiap persoalan yang muncul di tengah masyarakat diharapkan segera dikomunikasikan agar dapat diselesaikan sebelum berkembang menjadi konflik yang lebih besar.
Wakapolres Kompol Dedi Kurniawan Susilo menambahkan, kepolisian terbuka untuk memfasilitasi penyelesaian persoalan masyarakat sepanjang masih memungkinkan diselesaikan melalui mekanisme musyawarah dan tidak bertentangan dengan hukum.
Sebagai bentuk penghormatan, kelompok SAD memberikan gelar “Datuk Singo Belago” kepada Kapolres Doni Aryanto. Gelar tersebut menjadi simbol harapan agar Kapolres menegakkan aturan secara tegak lurus.
Sementara para Kapolsek mendapat julukan “Datuk Sipancang”, sebagai bentuk apresiasi atas peran dan pelayanan kepada masyarakat.
Silaturahmi ditutup dengan komitmen memperkuat komunikasi antara kepolisian, Temenggung, dan masyarakat SAD dalam menjaga keamanan sekaligus mencari solusi atas persoalan sosial dan ekonomi di wilayah Batang Hari.(*)







