Tangkal Radikalisme dari Pesantren, Fadhil Arief Hadiri Sosialisasi Densus 88 di Ponpes Zulhijjah

oleh -78 Dilihat
oleh

SWARAJAMBI.NET, BATANGHARI – Upaya pencegahan penyebaran paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET) terus diperkuat di Kabupaten Batang Hari. Kamis (18/6/2026), Bupati Batang Hari Mhd Fadhil Arief menghadiri kegiatan sosialisasi wawasan kebangsaan, pencegahan IRET, serta Tindak Pidana Cyber Crime (TCC) yang digelar Densus 88 Antiteror Satgaswil Jambi bersama Sat Intelkam Polres Batanghari di Pondok Pesantren Zulhijjah.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari tindak lanjut pascapemberian penghargaan dari Kapolri melalui Kasatgaswil Jambi Densus 88 Polri kepada sejumlah tokoh masyarakat dan tokoh agama yang dinilai aktif berperan dalam pencegahan paham radikal terorisme di Provinsi Jambi. Salah satu penerima penghargaan tersebut adalah Pengasuh Pondok Pesantren Zulhijjah Batanghari, KH Parlindungan Hasibuan.

Dalam sambutannya, Bupati Batang Hari Mhd Fadhil Arief menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh pengurus dan pengasuh Pondok Pesantren Zulhijjah yang dinilai konsisten berkontribusi dalam membina generasi muda.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Batang Hari, saya menyambut baik dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pengurus dan pengasuh Pondok Pesantren Zulhijjah. Keberadaan pesantren ini telah membuktikan diri sebagai salah satu garda terdepan dalam mencetak generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlakul karimah, karakter yang kuat, dan berlandaskan nilai-nilai agama,” ujar Fadhil Arief.

Menurutnya, pendidikan berbasis pesantren memiliki posisi strategis dalam membentuk generasi yang siap menghadapi tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai moral, kebangsaan, dan keagamaan sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat maupun bernegara.

Sementara itu, Kasubnit Densus 88 AT Satgaswil Jambi AKP Helmi menegaskan bahwa perkembangan teknologi informasi dan media sosial di era digital saat ini selain membawa manfaat besar, juga berpotensi dimanfaatkan pihak tertentu untuk menyebarkan paham radikal, intoleransi, ujaran kebencian, hingga informasi menyesatkan.

“Karena itu, generasi muda perlu memiliki pemahaman yang baik agar tidak mudah terpengaruh oleh ajakan maupun propaganda yang bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan,” katanya.

Helmi menjelaskan, radikalisme kerap berawal dari penyebaran pemahaman yang mengajarkan kebencian, menolak perbedaan, dan memandang kelompok lain sebagai musuh. Jika tidak diantisipasi sejak dini, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi tindakan yang merugikan diri sendiri, keluarga, masyarakat, bahkan bangsa dan negara.

Ia juga mengingatkan para santri untuk terus menanamkan sikap toleransi, saling menghormati, menjaga persatuan, serta bijak dalam menggunakan media sosial.

“Jangan mudah percaya terhadap informasi yang belum jelas kebenarannya. Jika menemukan hal-hal yang mencurigakan, jangan ragu untuk berdiskusi dengan guru maupun orang tua,” tegasnya.

Melalui sosialisasi tersebut, Densus 88 berharap para santri tidak hanya memahami bahaya radikalisme dan terorisme, tetapi juga mampu menjadi pelopor dalam menciptakan lingkungan pesantren yang aman, damai, dan kondusif.

Kegiatan ini sekaligus menegaskan peran penting pesantren sebagai benteng moral dan kebangsaan dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di tengah derasnya arus informasi digital dan berbagai tantangan ideologi yang berkembang di masyarakat. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.