Ini penjelasan Kemenag Soal Aturan Pengeras Suara Masjid selama Ramadan 2026, Simak!

oleh -12 Dilihat
oleh

SWARAJAMBI.NET — Penggunaan pengeras suara di masjid dan musala menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas ibadah umat Islam, mulai dari azan, iqamah, hingga pengajian atau tadarus Alquran. Regulasi penggunaan pengeras suara masjid dan musala telah diterbitkan dan sudah berlaku secara nasional, termasuk berlaku selama Ramadan 2026.

Aturan tersebut mencakup pengaturan batas volume, durasi pemakaian, serta pemisahan fungsi antara pengeras suara luar dan dalam masjid.

Regulasi penggunaan pengeras suara tertuang dalam Surat Edaran Menteri Agama Nomor 5 Tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala. Dalam edaran tersebut ditegaskan bahwa kegiatan Ramadan seperti salat tarawih, ceramah atau kajian, hingga tadarus Alquran sebaiknya menggunakan pengeras suara dalam.

Diatur juga bahwa suara yang dipancarkan melalui pengeras suara perlu memperhatikan kualitas dan kelayakannya, suara bagus atau tidak sumbang, serta pelafalannya juga baik dan benar.

Peraturan sejenis juga diterapkan di beberapa negara, antara lain Arab Saudi, Mesir, Bahrain, Malaysia, Uni Emirat Arab, Turki dan Suriah.

Arab Saudi, misalnya, menerbitkan edaran agar volume azan dan iqamah tidak melebihi sepertiga dari volume penuh pengeras suara. Mesir sejak 2018 juga memberlakukan pengaturan pengeras suara di masjid.

Di Selangor, Malaysia, azan dan bacaan Alquran menggunakan pengeras suara luar. Sementara itu, ceramah dan pembelajaran dibatasi hanya pada lingkungan masjid dan musala.

Sementara di Uni Emirat Arab (UEA), ada imbauan agar volume pengeras suara azan masjid tidak melebihi 85 desibel, lebih kecil dari Indonesia (100 desibel).

Berikut tata cara penggunaan pengeras suara sesuai surat edaran Kemenag:

Waktu Salat

1) Subuh

a) sebelum azan pada waktunya, pembacaan Alquran atau selawat (sholawat/tarhim) dapat menggunakan pengeras suara luar dalam jangka waktu paling lama 10 menit

b) pelaksanaan salat subuh, zikir, doa dan kuliah subuh menggunakan pengeras suara dalam.

2) Zuhur, Asar, Magrib dan Isya:

a) sebelum azan pada waktunya, pembacaan Alquran atau sholawat/tarhim dapat menggunakan pengeras suara Luar dalam jangka waktu paling lama 5 menit

b) sesudah azan dikumandangkan, yang digunakan pengeras suara dalam.

3) Jumat

a) sebelum azan pada waktunya, pembacaan Alquran atau sholawat/tarhim dapat menggunakan pengeras suara luar dalam jangka waktu paling lama 10 menit;

b) penyampaian pengumuman mengenai petugas Jumat, hasil infak sedekah, pelaksanaan khotbah Jumat, salat, zikir dan doa, menggunakan pengeras suara dalam.

Kegiatan Syiar Ramadan, Gema Takbir Idul Fitri, Idul Adha dan Upacara Hari Besar Islam

1) penggunaan pengeras suara di bulan Ramadan baik dalam pelaksanaan salat tarawih, ceramah/kajian Ramadan, dan tadarus Alquran menggunakan pengeras suara dalam;

2) takbir pada tanggal 1 Syawal/10 Zulhijjah di masjid/musala dapat dilakukan dengan menggunakan pengeras suara luar sampai dengan pukul 22.00 waktu setempat dan dapat dilanjutkan dengan pengeras suara dalam.

3) pelaksanaan Salat Idul Fitri dan Idul Adha dapat dilakukan dengan menggunakan pengeras suara luar;

4) takbir Idul Adha di hari Tasyrik pada tanggal 11 sampai dengan 13 Zulhijjah dapat dikumandangkan setelah pelaksanaan Salat Rawatib secara berturut-turut dengan menggunakan pengeras suara dalam

5) Upacara peringatan hari besar Islam atau pengajian menggunakan pengeras suara dalam, kecuali apabila pengunjung tablig melimpah ke luar arena masjid/musala dapat menggunakan pengeras suara luar.(*)

 

 

 

 

No More Posts Available.

No more pages to load.