SWARAJAMBI.NET, BATANGHARI – Destinasi wisata Aek Tumpah di Kabupaten Batang Hari mulai mendekati tahap penyelesaian. Proyek air terjun buatan yang menelan anggaran Rp3,5 miliar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tersebut telah mencapai progres pembangunan fisik 90 persen.
Kehadiran destinasi wisata baru ini tidak hanya ditujukan untuk menambah pilihan rekreasi masyarakat, tetapi juga membuka peluang ekonomi melalui perdagangan, kuliner, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Batang Hari, Ajrisa Windra, mengatakan pembangunan Aek Tumpah telah dimulai sejak Mei 2026 dengan estimasi waktu pengerjaan selama 150 hari kerja.
Saat ini, pekerjaan memasuki tahap penyelesaian akhir atau finishing. Dengan progres fisik mencapai 90 persen, pemerintah daerah menargetkan sisa pekerjaan dapat dituntaskan hingga kawasan tersebut siap dimanfaatkan.
“Destinasi wisata itu menggunakan anggaran APBD sebesar Rp3,5 miliar,” kata Ajrisa baru-baru ini kepada wartawan.
Investasi Wisata Rp3,5 Miliar, Peluang Usaha Menanti
Dari sisi ekonomi, pembangunan Aek Tumpah berpotensi menciptakan aktivitas usaha baru di sekitar kawasan wisata. Arus kunjungan masyarakat dapat menjadi pasar bagi pedagang makanan dan minuman, penjual oleh-oleh, pelaku usaha rumahan, hingga penyedia jasa pendukung pariwisata.
Peluang tersebut akan semakin besar apabila destinasi mampu menarik pengunjung secara konsisten, termasuk wisatawan dari luar Kabupaten Batang Hari.
Bagi UMKM lokal, kehadiran destinasi wisata dapat menjadi kesempatan untuk memperluas pasar tanpa harus bergantung sepenuhnya pada penjualan di lokasi usaha masing-masing. Produk kuliner khas, makanan ringan, minuman, dan produk lokal berpeluang dipasarkan kepada pengunjung.
Namun, besarnya dampak ekonomi akan bergantung pada jumlah kunjungan, daya beli wisatawan, lama kunjungan, serta keterlibatan pelaku usaha setempat.
Tantangan Mengubah Destinasi Menjadi Sumber Pendapatan
Dengan anggaran pembangunan Rp3,5 miliar, tantangan berikutnya adalah memastikan fasilitas yang dibangun dapat memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan.
Pengelolaan kawasan, kebersihan, keamanan, aksesibilitas, fasilitas pendukung, dan promosi menjadi faktor penting untuk mendorong kunjungan berulang. Pemerintah daerah juga perlu membuka ruang bagi UMKM lokal agar manfaat ekonomi pariwisata tidak hanya berhenti pada pembangunan infrastruktur.
Pengukuran jumlah pengunjung, transaksi pedagang, penyerapan tenaga kerja, serta pendapatan usaha di sekitar kawasan dapat menjadi indikator untuk menilai dampak ekonomi destinasi tersebut.
Pemerintah Kabupaten Batang Hari berharap Aek Tumpah menjadi daya tarik wisata baru sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Jika dikelola secara optimal, destinasi ini berpeluang menjadi salah satu penggerak ekonomi lokal. Dengan demikian, anggaran Rp3,5 miliar tidak hanya menghasilkan fasilitas rekreasi, tetapi juga dapat menjadi modal awal bagi tumbuhnya aktivitas usaha dan pendapatan masyarakat di Kabupaten Batang Hari.(*)





