Tergiur Kerja dari Medsos, 48 Orang Malah Telantar dan Dipulangkan dari Jambi

oleh -23 Dilihat
oleh
ILUSTRASI: Terminal Tipe A Alam Barajo.

SWARAJAMBI.NET, JAMBI – Janji pekerjaan berujung penipuan. Puluhan orang yang datang ke Jambi dengan harapan mendapat penghasilan justru terlantar setelah lowongan kerja yang mereka dapat dari media sosial ternyata tidak sesuai kenyataan.

Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas II Jambi mencatat sudah 48 orang telantar dipulangkan ke daerah asal hingga pertengahan 2026. Mereka difasilitasi melalui layanan sosial di Terminal Tipe A Alam Barajo, Kota Jambi.

Kepala Satuan Pelayanan Terminal Tipe A Alam Barajo Kota Jambi Sugiyo mengatakan, para korban umumnya datang ke Jambi karena tergiur tawaran pekerjaan yang beredar melalui media sosial.

“Hingga pertengahan tahun ini sudah 48 orang terlantar kami pulangkan ke daerah asal menggunakan bus,” kata Sugiyo, Jumat (7/8/2026).

Pemulangan tersebut merupakan bagian dari kerja sama layanan sosial antara BPTD Jambi dengan Dinas Sosial (Dinsos) Kota dan Provinsi Jambi. Kesepakatan itu mulai berjalan sejak Januari 2026.

Sugiyo menjelaskan, proses pemulangan dilakukan dengan menitipkan orang telantar kepada perusahaan otobus yang beroperasi di Terminal Tipe A Alam Barajo. Cara tersebut menjadi solusi agar mereka dapat kembali ke daerah asal tanpa harus mengeluarkan biaya perjalanan sendiri.

Dari 48 orang yang dipulangkan, mayoritas merupakan laki-laki. Jumlahnya mencapai 43 orang, sedangkan sisanya perempuan.

Mereka berasal dari sejumlah daerah. Paling banyak berasal dari Pulau Jawa, disusul Sumatera Utara dan Pekanbaru.

Persoalan bermula dari tawaran pekerjaan yang terlihat menggiurkan di media sosial. Lowongan tersebut menawarkan pekerjaan di berbagai sektor, mulai dari perkebunan hingga buruh harian lepas.

Namun, setelah tiba di Jambi, pekerjaan yang dijanjikan tak kunjung didapat. Sebagian akhirnya kehabisan bekal dan terlantar di daerah tujuan.

Ironisnya, ada pula korban yang sudah menyerahkan uang sebagai tanda jadi agar bisa segera diterima bekerja.

BPTD mencatat, korban rata-rata berusia sekitar 30 hingga 40 tahun. Dari sisi pendidikan, sebagian besar hanya mengenyam pendidikan hingga jenjang SD dan SMP.

Kondisi tersebut membuat mereka rentan menjadi sasaran penipuan lowongan kerja yang disebarkan melalui media sosial.

Sugiyo mengimbau masyarakat tidak mudah percaya terhadap informasi lowongan pekerjaan yang beredar di media sosial. Setiap tawaran kerja perlu diverifikasi terlebih dahulu, terutama mengenai perusahaan, lokasi pekerjaan, hingga mekanisme perekrutan.

Menyikapi kasus orang terlantar, BPTD meminta kepada masyarakat bijak menggunakan media sosial serta memastikan akurasi informasi lowongan pekerjaan, supaya peristiwa penipuan tidak berulang.

“Rata-rata memang orang yang tertipu hanya menamatkan sekolah dasar. Kami memfasilitasi pemulangan melalui sistem titip ke agen bus, asalkan yang bersangkutan sehat secara jasmani dan rohani, pihak agen tidak keberatan, mengingat ini soal kemanusiaan,” ujarnya.(*)

No More Posts Available.

No more pages to load.