120 Hotspot Terdeteksi di Jambi, Tapi Tak Ada Api Aktif? Ini Penjelasan Gubernur Al Haris

oleh -24 Dilihat
oleh
Gubernur Jambi Al Haris ikut memadamkan kebakaran lahan dan hutan yang terjadi di Jambi.

SWARAJAMBI.NET, JAMBI – Data kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi kembali menjadi sorotan. Sebanyak 120 hotspot terdeteksi berdasarkan pemantauan satelit. Namun, pada saat yang sama, Gubernur Jambi Al Haris melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa tidak terdapat lagi titik api aktif dan penanganan karhutla telah memasuki tahap pendinginan.

Lantas, apakah dua informasi tersebut bertentangan?

Jawabannya, tidak selalu. Perbedaan tersebut berkaitan dengan cara membaca istilah hotspot dan firespot dalam penanganan karhutla.

Gubernur Jambi Al Haris menyampaikan kondisi terkini karhutla Jambi kepada Presiden Prabowo Subianto pada Senin (24/8/2026). Dalam laporan tersebut, luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 658 hektare, sementara pemantauan satelit mencatat 120 hotspot.

Meski demikian, kondisi di lapangan dilaporkan sudah memasuki tahap pendinginan dan tidak ditemukan lagi titik api aktif.

Hotspot Bukan Berarti Api Masih Menyala

Hotspot merupakan indikasi anomali atau sumber panas yang ditangkap sensor satelit. Data ini menjadi semacam alarm awal untuk menentukan wilayah yang perlu mendapat perhatian dan kemudian diverifikasi di lapangan.

Sementara itu, firespot atau titik api dalam konteks penanganan karhutla mengacu pada keberadaan api yang telah ditemukan atau dikonfirmasi melalui pemeriksaan di lapangan.

Artinya, satu hotspot tidak otomatis berarti terdapat kebakaran aktif.

Data hasil penginderaan jauh tetap harus dikombinasikan dengan pengecekan langsung untuk mengetahui kondisi sebenarnya di lokasi.

Faktor confidence atau tingkat keyakinan hasil deteksi satelit juga menjadi bagian penting dalam membaca data hotspot.

Semakin rendah tingkat confidence semakin hati-hati pula data tersebut harus ditafsirkan. Deteksi dengan tingkat keyakinan rendah tidak bisa berdiri sendiri sebagai bukti bahwa kebakaran masih berlangsung.

Jika sebuah wilayah terdeteksi sebagai hotspot dengan confidence rendah, kemudian tim di lapangan melakukan pengecekan dan tidak menemukan api aktif, maka tidak tepat jika langsung disimpulkan bahwa kebakaran masih terjadi.

Tetap Jadi Alarm

Meski begitu, keberadaan 120 hotspot bukan berarti boleh diabaikan.

Hotspot tetap memiliki fungsi penting sebagai indikator awal untuk menentukan lokasi prioritas pemantauan dan verifikasi. Apalagi Jambi memiliki kawasan gambut yang relatif rentan terhadap kebakaran.

Dalam membaca informasi karhutla, masyarakat setidaknya perlu memahami tiga istilah utama.

Pertama, hotspot, yakni indikasi anomali atau sumber panas yang terdeteksi satelit.

Kedua, firespot atau titik api, yakni indikasi api atau kebakaran yang telah ditemukan maupun diverifikasi di lapangan.

Ketiga, confidence, yakni tingkat keyakinan terhadap hasil deteksi hotspot oleh sistem satelit.

Dengan memahami perbedaan tersebut, keberadaan hotspot tidak serta-merta dapat dimaknai sebagai api yang masih berkobar.

Jika hasil verifikasi lapangan tidak menemukan api aktif dan penanganan sebelumnya telah dilakukan, kondisi tersebut dapat masuk dalam tahap pemantauan dan pendinginan.

Namun, pekerjaan belum sepenuhnya selesai.

Khusus kawasan gambut, potensi munculnya kembali api maupun panas di bawah permukaan tetap harus diantisipasi. Karena itu, pemantauan dan pendinginan harus terus dilakukan untuk memastikan tidak terjadi re-fire atau kebakaran kembali.

Jangan Hanya Lihat Angka Hotspot

Informasi mengenai karhutla juga tidak cukup hanya membaca jumlah hotspot. Tingkat confidence, hasil verifikasi lapangan, kondisi cuaca, karakteristik lahan, hingga perkembangan penanganan harus menjadi satu kesatuan dalam membaca situasi.

Dengan demikian, laporan Gubernur Jambi mengenai tidak adanya titik api aktif dan data 120 hotspot bukan dua informasi yang otomatis bertolak belakang.

Hotspot merupakan indikator dari penginderaan jauh. Sedangkan status kebakaran aktif harus dipastikan melalui kondisi dan pemeriksaan di lapangan.

Yang terpenting, setiap hotspot tetap harus menjadi perhatian agar potensi karhutla dapat segera diverifikasi dan ditangani sebelum kembali membesar.(*)

No More Posts Available.

No more pages to load.