Musim Kemarau Datang, BPBD Batanghari Bunyikan Alarm Karhutla dan Kekeringan

oleh -12 Dilihat
oleh

SWARAJAMBI.NET, BATANGHARI – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Batanghari mulai memperketat langkah mitigasi menghadapi musim kemarau. Melalui sosialisasi Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE), masyarakat diajak meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan yang diprediksi berpotensi melanda sejumlah wilayah, Kamis (30/7/2026).

Sekretaris BPBD Kabupaten Batanghari, Sholihin, mengatakan edukasi kepada masyarakat menjadi langkah penting untuk membangun kesadaran dan kesiapsiagaan menghadapi berbagai potensi bencana.

“Melalui sosialisasi ini kami ingin meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap ancaman bencana, mulai dari karhutla, kekeringan, banjir, tanah longsor, cuaca ekstrem hingga gempa bumi,” ujarnya.

Menurut Sholihin, memasuki musim kemarau, dua ancaman utama yang harus diwaspadai masyarakat adalah kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan.

Berdasarkan Kajian Risiko Bencana Kabupaten Batanghari 2026–2030, sebanyak delapan kecamatan masuk kategori berisiko tinggi terhadap karhutla dengan total luas wilayah rawan mencapai 531.847,08 hektare.

Ia menjelaskan, praktik membuka lahan dengan cara membakar masih menjadi salah satu penyebab utama terjadinya kebakaran hutan dan lahan di wilayah tersebut.

“Salah satu penyebab utama karhutla masih berasal dari pembukaan lahan perkebunan dengan cara dibakar. Ini yang terus kami ingatkan kepada masyarakat agar tidak lagi dilakukan,” katanya.

Selain karhutla, ancaman kekeringan juga menjadi perhatian serius. Empat kecamatan, yakni Batin XXIV, Maro Sebo Ulu, Mersam, dan Muara Tembesi, masuk kategori risiko tinggi. Sementara Kecamatan Bajubang, Maro Sebo Ilir, Muara Bulian, dan Pemayung berada pada kategori risiko sedang.

Secara keseluruhan, luas wilayah yang berpotensi terdampak kekeringan mencapai 545.368,90 hektare.

BPBD terus mengintensifkan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar karena dampaknya tidak hanya merusak lingkungan. Tetapi juga mengganggu kesehatan, aktivitas masyarakat, hingga perekonomian daerah.

Selain itu, warga juga dibekali pengetahuan mengenai langkah penyelamatan diri saat terjadi bencana serta pentingnya memahami prosedur tanggap darurat sebagai bagian dari upaya membangun masyarakat yang tangguh.

“Melalui kerja sama seluruh pihak, kami berharap Kabupaten Batanghari menjadi daerah yang semakin tangguh, aman, siap, dan selamat dalam menghadapi berbagai potensi bencana,” ujar Sholihin.

Ia menambahkan, upaya mitigasi tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Keterlibatan dunia usaha, relawan, dan masyarakat menjadi kunci untuk menekan risiko bencana di Batanghari.

“Dengan kolaborasi semua pihak, kami optimistis risiko bencana dapat diminimalkan sehingga masyarakat lebih siap menghadapi setiap potensi ancaman yang ada,” pungkasnya.(*)

No More Posts Available.

No more pages to load.