SWARAJAMBI.NET, BATANGHARI – Bupati Batanghari Fadhil Arief mengungkapkan ambisi besar daerahnya untuk menjadi lumbung pangan utama di Provinsi Jambi. Salah satu langkah strategis yang telah dilakukan adalah mengembangkan lahan tanam seluas 5.000 hektare. Yang sebagian di antaranya kini telah mulai memasuki masa panen.
Hal itu disampaikan Fadhil pada program Nation Hub CNBC Indonesia, Jumat (16/5/2025) malam.
Acara dialog tersebut berlangsung di Gedung Transmedia Studio CNBC Indonesia, Lt. 3, Jl. Kapten Tendean No. 12-14A, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.
CNBC TV merupakan stasiun televisi yang memfokuskan diri pada berita ekonomi dan bisnis terkini.
Fadhil mengungkapkan dengan kerja keras dan kolaborasi yang kuat, tahun ini Batanghari diharapkan dapat mencapai swasembada beras. Sebuah target ambisius yang diyakini dapat dicapai jika produksi terus meningkat dan pola tanam petani bisa dijaga secara konsisten.
Fadhil juga mengungkapkan tantangan yang dihadapi dalam mewujudkan visi tersebut. Khususnya dalam mengubah paradigma masyarakat yang selama ini lebih memilih menanam sawit dan karet.
“Diawal-awal, diawal tahun 2021, 2022, memang agak berat. Karena paradigma masyarakat bahwa dengan hasil sawitnya atau hasil karetnya, mereka bisa beli beras. Tapi mereka lupa, ini bentuk pertahanan. Banyak pun uang kita, sumbernya tidak ada, mau belanja kemana. Sementara kita, budayanya asupan. Pangan kita terutama beras, karena menjadi bahan pokok utama dari warga Kabupaten Batanghari, khususnya di Indonesia,” terangnya.
“Kita gambarkan (tanyakan) kepada masyarakat bahwa harga beras ini pernah turun, jawabnya tidak pernah. Pernah gak orang Batanghari makan nasinya nambah, nambah. Berarti konsumsinya besar. Kemudian kalau kita nanam padi, susahkah jualnya, tidak susah. Karena sangat terbuka, terutama Batanghari nya belum swasembada, provinsi Jambi juga belum. Jadi nggak usah dibawa kemana-mana,” sambungnya.
Dengan dasar itu, Fadhil mengajak stakeholder lainnya untuk mengubah paradigma masyarakat agar mau menanam padi.
“Karena kita ada Dai. Ustad yang ditugaskan setiap desa dan kelurahan di Batanghari. Terus ada motivator namanya, yang kita anggap bisa mengubah paradigma, merubah mindset masyarakat. Bahwa apabila beras mereka penuhi maka hal lain akan mudah mereka selesaikan,” katanya.

Fadhil bercerita, dulu orang tua kita pernah mengalami, uang punya tapi beras tidak ada.
“Tahun 50 an dulu, mau beli kemana. Kita gambarkan, pingin gak kejadian begitu terjadi lagi ditempat kita, jangan. Kalau dulu diganti pakai gadung namanya. Gadung itu seperti umbi-umbian yang mesti direndam dulu di sungai untuk menghilangkan zat racunnya. Baru dikonsumsi seperti beras,” katanya.
“Maka kami tidak mau seperti begitu lagi. Kalau tidak mau, padi harus ditanam. Sehingga tahun 2022, 2023, banyak lahan sawah yang sudah 15 tahun, 20 tahun, tidak ditanami, dibuka kembali oleh masyarakat. Tahun 2024 kami lebih kencang lagi pergerakannya,” imbuhnya.
Fadhil mengatakan pihaknya menyakinkan petani lagi dengan BMKG yang semakin presisi perkiraan cuacanya. Yang membuat wilayah Batanghari akan bisa minimal menanam dua kali setahun.
“Dengan perkiraan cuaca yang lebih baik. Karena kita rata-rata sawah kita tadah hujan. Sebagian bisa tiga kali setahun,” katanya.
“Kita terus yakinkan masyarakat bahwa satu hektar sawah, itu hasilnya jauh lebih besar dari pada satu hektar sawit per tahun. Silahkan mereka hitung pakai kalkulatornya masing-masing,” katanya lagi.
Menurut Fadhil, para petani sudah menyakini bahwa harga beras yang tinggi. Terus pasar yang terbuka lebar dan stabil serta lebih menguntungkan dari sawit.
“Sehingga kita mengharapkan tidak ada lagi alih fungsi lahan dari sawah ke kebun kelapa sawit,” ujarnya.
Dengan semangat transformasi ini, Batanghari tidak hanya menargetkan peningkatan produksi beras saja. Tetapi juga membuka jalan bagi ketahanan pangan Jambi secara keseluruhan.(*)
Sumber: CNBC TV






